Sabtu, 27 November 2010

Uang Belanja, Kok, Dijatah

B anyak, lo, istri yang enggak tahu gaji suaminya. Sampai-sampai uang belanja pun dijatah oleh suami.

Kisah seorang istri berikut ini adalah sebuah contoh nyata. Linda, sebut saja begitu, sudah 3 tahun menikah. Namun sejak menikah hingga sekarang, ia tak pernah tahu berapa besar gaji suaminya setiap bulan. "Saya cuma dikasih uang belanja setiap minggu 150 ribu. Sebelum krismon, saya dikasih 100 ribu. Pinter-pinternya saya, deh, gimana ngaturnya," tutur wanita 32 tahun ini.

Sebenarnya, Linda yang sejak menikah tak bekerja lagi, ingin sekali tahu penghasilan suaminya setiap bulan, namun ia tak berani menanyakannya. "Pernah sekali saya tanya, tapi dia malah marah. Katanya, saya nggak perlu tahu. Toh, segala kebutuhan saya sudah dia penuhi.

Memang, sih, meski dijatah setiap minggu, tapi kalau saya kekurangan, dia pasti ngasih meskipun ditanya dulu untuk apa," lanjutnya. Pendeknya, kendati ada ganjalan di dada, namun Linda tak terlalu mempersoalkan berapa besar gaji suaminya. Apalagi sang suami, akunya, tak pelit-pelit amat. "Kalau saya perlu uang, dia selalu memberi asalkan alasannya tepat," tambah ibu seorang putri berusia 1 tahun 8 bulan ini.

Boleh jadi, Linda masih beruntung ketimbang istri-istri lain yang selain dijatah suaminya -bahkan, tak sedikit istri yang dijatah harian- masih harus pontang-panting untuk menutupi kekurangan belanja harian lantaran suaminya tak mau tahu lagi. Perilaku suami yang demikian, ternyata banyak, lo, dijumpai. Soalnya, kata psikolog Widyarto Adi Ps. , setiap lelaki memang punya kecenderungan untuk menggunakan uang seenaknya sendiri. Nah, lo!

ISTRI "MENTERI KEUANGAN"

Tapi sebenarnya, persoalan uang belanja yang dijatah ini, menurut Widyarto, lebih disebabkan tak adanya kedudukan yang setara antara suami-istri. "Suami tak percaya kalau istrinya mampu mengelola keuangan keluarga, sehingga ia berpikir istrinya tak perlu tahu berapa besar gajinya dan untuk keperluan sehari-hari keluarga, si istri dijatah, yang besarnya uang sudah ditentukan oleh suami," tuturnya.

Itulah mengapa, Widyarto menekankan, kesetaraan antara suami-istri sangat mutlak diperlukan agar pengelolaan keuangan di dalam keluarga menjadi lebih mudah. "Biasanya istri yang akan ditunjuk sebagai 'menteri keuangan' keluarga yang bertanggung jawab dalam mengelola gaji suami. Tentu dilakukannya secara terbuka dan transparan oleh suami maupun istri pada saat mengelolanya," paparnya. Dengan demikian, istri harus tahu berapa besar gaji maupun hasil sampingan suaminya.

"Kalau suaminya sering diundang jadi pembicara atau moderator, misalnya, sudah sewajarnya istri juga tahu berapa 'pasaran' suaminya di dunia seminar." Hal serupa juga harus dilakukan istri. "Bila istri punya sampingan, misalnya, bersama kawan berbisnis pakaian, suami pun harus tahu berapa gaji maupun hasil sampingan suaminya. "Kalau suaminya sering diundang jadi pembicara atau moderator, misalnya, sudah sewajarnya istri juga tahu berapa "pasaran" suaminya di dunia seminar." Hal serupa juga harus dilakukan istri.

"Bila istri punya sampingan, misalnya, bersama kawan berbisnis pakaian, suami pun harus tahu berapa pendapatannya." Soalnya, ketidakterbukaan dan ketidaksetaraan merupakan penyebab utama saling curiga di antara suami-istri. Kadang ada, kan suami ataupun istri yang mengeluarkan uang diluar kebutuhan anak-istri atau suaminya. Misalnya, harus membantu adik-adiknya yang masih sekolah karena ayahnya sudah lama pensiun atau membantu biaya hidup ibunya.

"Nah, itu semua harus sepengetahuan pasangan masing-masing. "Kalau tidak, akan menyebabkan mereka tak merasa enak jika dikemudian hari pasangan hidupnya mengetahui dan menganggapnya 'berselingkuh' uang". Hal ini dapat menjadi pemicu timbulnya pertengkaran di antara suami istri.

JADI KONSUMTIF

Kendati istri adalah "menteri keuangan", namun dalam pengelolaannya, menurut Widyarto, seyogyanya suami juga dilibatkan. "Tapi tentu tak terlibat dalam semua hal," tukasnya. Misalnya, suami dapat dilibatkan dalam menentukan ke mana sofa di ruang tamu akan direparasi karena kebetulan si suami lebih mengetahui tempat reparasi sofa yang lebih murah. "Kalaupun suami enggak mau dilibatkan atau melibatkan diri, ya, enggak apa-apa. Yang penting, istri selalu terbuka terhadap keterlibatan suami," lanjut Widyarto.

Malah ada positifnya, lo, kalau Bapak enggak mau terlibat. Istri jadi dituntut untuk bertanggung jawab dalam pengelolaannya. "Ia dapat secara bebas memutuskan dan merencanakan karena sadar betul berapa besar gaji suaminya, sehingga kehati-hatiannya akan tinggi dalam mengelola uang." Tapi lihat-lihat juga tipe sang istri, ya, Pak. Kalau ia tak dapat mengendalikan diri, ia akan 'mentang-mentang' dan terdorong untuk menggunakan uang tersebut untuk hal-hal yang tak perlu, menjadi komsutif.Bukankah wanita, katanya, 'lapar mata', kalau melihat barang bagus inginnya membeli meskipun kurang membutuhkan.

Ada lo, wanita yang meja riasnya sampai tiga buah. Nah, menghadapi istri yang demikian, Bapak wajib mengingatkannya. "Bukankah komitmen dalam mengelola keuangan keluarga adalah melaksanakan pendistribusiannya secara benar dan lurus?" ujar Widyarto. Jadi, kalau istri sebagai "menteri keuangan"nya melakukan penyimpangan atau bersikap konsumtif, berarti, kan, mengganggu keuangan keluarga. Makanya, ia perlu diingatkan.

Jika Bapak sudah mengingatkan namun ia tak juga berubah, saran Widyarto, Bapak harus mengambil alih pengelolaan atau memberi uang harian yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan itu sendiri. "Kalau tidak, tentu taruhannya adalah kesengsaraan," tukas pria yang biasa melakukan pelatihan bidang pengembangan diri dan pengembangan organisasi ini.

SISTEM SATU PUNDI

Adapun mengenai sistem pengelolaan keuangan dalam keluarga, menurut Widyarto, bisa dipilih sistem satu pundi atau dua pundi. Tentu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Pada sistem satu pundi, terang Widyarto, penghasilan istri dan suami dijadikan satu. Dengan demikian, pengeluaran jadi lebih terkontrol karena suami dan istri sama-sama mengetahui sehingga dapat saling mengingatkan. Namun kelemahannya, "dapat menimbulkan kecurigaan berlebihan dari salah satu pihak."

Misalnya, istri telah membelanjakan uang untuk seperangkat alat make up seharga Rp. 250 ribu yang oleh suaminya diprotes karena dianggap berlebihan. "Nah, ini, kan, bisa menimbulkan konflik di antara suami-istri." Menurut Widyarto, sistem satu pundi lebih tepat digunakan oleh suami-istri yang penghasilannya relatif masih sedikit atau si istri tak bekerja. Dengan begitu, pengelolaan keuangannya dapat diserahkan kepada istri atau bisa juga suami yang langsung mengelola dan istri pun tahu penggunaan uang tersebut.

"Tapi sebaiknya, sih, pengelolaan uang diserahkan kepada istri saja kalau istrinya tak bekerja. Soalnya, para suami umumnya jarang sekali mau memikirkan hal-hal sepele dalam masalah pengeluaran keluarga," tuturnya. Selanjutnya, bila telah mengalami peningkatan penghasilan yang cukup signifikan, barulah digunakan sistem dua pundi.

Pada suami-istri yang sama-sama bekerja dan telah mengalami peningkatan penghasilan, dengan sistem dua pundi berarti masing-masing memiliki pundi sendiri. Sedangkan pada suami yang istrinya tak bekerja namun penghasilannya telah meningkat, maka pundi yang kedua merupakan tabungan yang diambil dari sisa uang pada pundi pertama.

IDEALNYA DUA PUNDI

Bagi suami-istri yang sama-sama bekerja dengan penghasilan relatif mencukupi, Widyarto tak menganjurkan sistem satu pundi, walaupun pengelolaannya terkontrol. "Soalnya, si istri nanti jadi super woman; disamping sibuk urusan kantor, dia juga disibukkan urusan pengelolaan keuangan keluarga."

Bukan berarti istri lantas tak boleh jadi "menteri keuangan"nya, lo. "Kalau memang si istri bisa melakukannya, ya, enggak apa-apa. Toh, sebenarnya wanita juga lebih tabah dibanding laki-laki." Namun begitu, Widyarto melihat, akan lebih ideal bila digunakan sistem dua pundi karena masing-masing pihak akan lebih leluasa untuk mengelola sendiri uang pendapatannya. Bukankah masing-masing punya pundi sendiri?

"Tapi tentu dengan tak meninggalkan kesetaraan, ya," pesan Widyarto seraya melanjutkan, "karena kesetaraan adalah manifestasi gejala penghargaan dari masing-masing pihak kepada pasangannya." Yang perlu diingat, pada sistem dua pundi, siapapun yang lebih besar penghasilannya -tanpa terkecuali- akan menanggung keuangan keluarga lebih besar dari pasangannya.

"Jadi, kalau suami gajinya lebih besar, ia dapat menanggung biaya pengeluaran yang besar-besar, seperti rekening telepon, asuransi mobil, uang pangkal masuk sekolah anak-anak, perbaikan rumah, dan sebagainya. Sedangkan istri yang membayar iuran sekolah anak, belanja sehari-hari maupun gaji pembantu." Begitu pula sebaliknya kalau istri yang lebih besar penghasilannya.

Untuk memperlancar komunikasi, saran Widyarto, alat bantu seperti white board bisa digunakan sebagai media komunikasi antara suami-istri ataupun dengan anggota keluarga lain. Misalnya, untuk menyampaikan pesan kepada suami bahwa perlu dibelikan lagi satu tabung gas sebagai cadangan. Tentunya pesan tersebut dapat dibaca oleh semua anggota keluarga agar dapat saling mengingatkan.

PUNDI KETIGA DAN SETERUSNYA

Kalau sistem dua pundi sudah sukses, selanjutnya suami-istri bisa menciptakan pundi ketiga. "Pundi ketiga merupakan gabungan sisa uang pada pundi milik masing-masing. Jadi, sifatnya sama dengan tabungan, lebih banyak uang yang masuk," jelas Widyarto.

Dari pundi ketiga dapat pula direncanakan pengeluaran lain, misalnya, untuk berlibur sekeluarga ke Bali. Jika penghasilan suami dan istri, seiring dengan waktu terus bertambah, maka dapat diciptakan pundi keempat, kelima, dan seterusnya sebagai tempat menabung untuk pengeluaran yang cukup besar dan bersifat jangka panjang. Misalnya, ada rencana merenovasi rumah, ingin mengganti mobil, dan sebagainya yang perlu waktu relatif lama untuk mengumpulkan dananya. Ternyata enggak sulit-sulit amat, ya, Pak-Bu, mengelola keuangan keluarga. Asalkan kita mau saling terbuka mengenai gaji masing-masing dan percaya dalam pengelolaannya. Tentunya yang ditunjuk sebagai "menteri keuangan" juga harus bisa dipercaya, lo.

MENGANDALKAN ISTRI

Ada, lo, suami yang tak mau ikut berperan dalam keuangan keluarga lantaran istrinya sudah bekerja. Jadi, istrilah yang membiayai seluruh kebutuhan rumah tangga dengan gajinya, sementara si suami menggunakan seluruh gajinya untuk kebutuhannya sendiri. Si suami juga enggak mau peduli bila istrinya mengalami kekurangan uang, sehingga si istri harus berjuang sendiri untuk menutupi kekurangan tersebut dengan pinjam sana-sini. Suami model ini, menurut Widyarto , sewaktu kecil kurang mendapatkan pendidikan tentang berbagi dan bagaimana menghargai wanita. "Setelah menikah, walaupun sudah berpenghasilan, tanggung jawabnya cenderung kurang dalam menopang kebutuhan keluarganya dan lebih mengandalkan istrinya dalam membiayai kebutuhan keluarganya." Hal ini tentunya membuat hubungan suami-istri jadi tak harmonis. Komunikasi pun bisa enggak ada. Masalah anak-anak, misalnya, semuanya seolah-olah hanyalah urusan istri semata. Bila keadaan ini berlarut-larut, bukan tak mungkin si istri akhirnya mengajukan gugat cerai kepada sang suami. Nah, bila Anda yang menjadi istri tersebut, saran Widyarto, mintalah pertolongan kepada sanak keluarga untuk dapat menasihati suami. Misalnya, kepada mertua. Atau, bila perlu dapat juga meminta bantuan kepada ahli agama semisal ulama.

DEMI HARGA DIRI, PRIA PERLU "UANG LELAKI"

Sering, kan, mendengar istilah "uang lelaki"? Menurut Widyarto , para suami biasanya memang membutuhkan "uang lelaki" untuk kegiatannya di luar rumah. "Kadang, suami, kan, juga perlu mentraktir untuk membina network dengan teman-temannya atau untuk menjaga harga dirinya. Nah, ini, kan, tentunya membutuhkan biaya," tuturnya. Jadi, sepanjang jelas ketahuan digunakannya untuk apa saja, "uang lelaki" masih bisa ditolerir. "Asal jangan buat berselingkuh saja, ya!" tukas Widyarto.

Selain itu, "uang lelaki" sebaiknya juga tak berasal dari gaji atau penghasilan tetap lainnya, karena dikhawatirkan akan menganggu keuangan rumah tangga. "Bila suami tak punya penghasilan sampingan, diskusikan dengan istri untuk membahas masalah tersebut," anjurnya.

Julie/Rohedi Yulianto

Sumber www.tabloidnova.com

Kodrat

Kemarin sewaktu di mall die Frau bertemu dengan teman die Frau yang notabene-nya masih pengantin baru, cuit..cuit... !! Well, masih dua bulan umur perkawinan mereka. Masih sangat muda...

Sambil menikmati makan siang kami saling berbincang seputar kehidupan kami berdua.
"Unbelievable die Frau, my hubby kok beda banget kelakuannya dibanding waktu kami masih pacaran dulu ya? Bener-bener ndak nyangka kalo jadinya seperti ini. Seharusnya dia bisa ngertiin aku".

Weits.. sabar honey, jangan keburu ambil kesimpulan seperti itu, setiap perkara pasti ada ujung masalahnya, so .. mari kita kaji pokok perkaranya.

"Oh die Frau, aku masih kurang sabar bagaimana, my hubby itu benar-benar kolot, dia sama sekali tidak mau membantuku dalam mengurus pekerjaan rumah tangga. Bisa engkau bayangkan aku ini adalah seorang pekerja kantoran, pulang kerumah dalam kondisi lelah masih harus memasak, mencuci piring, dan bahkan mencuci baju. Tak cukup sampai disitu, aku pun harus membersihkan dan membereskan rumah sebelum berangkat kerja. Betapa lelahnya aku. Yang lebih menyebalkan lagi, ketika aku meminta bantuan suamiku untuk membersihkan rumah dia menolaknya dan dia bilang kalo itu adalah kodratku sebagai wanita, sedangkan kodrat pria pria adalah mencari nafkah. What?? I just ask him to clean up the floor!! Oh die Frau, what should I do?

Oke... sebenarnya hal-hal sepele seperti ini sudah sering dialami oleh pasangan-pasangan dalam mengarungi rumah tangga mereka. Memang rasa saling mengerti sangat dibutuhkan pada kasus seperti ini.

Sebenarnya apa sih makna "kodrat" itu? menurut kamus bahasa Indonesia artinya adalah "kekuasaan (Tuhan): manusia tidak akan mampu menentang -- atas dirinya sbg makhluk hidup", jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kodrat itu anugerah dari Tuhan yang bersifat alami dan mutlak yang mana tidak ada satupun yang bisa menentang, maksud die Frau disini kodrat sebagai wanita adalah mengandung dan melahirkan, sedang kodrat bagi pria adalah membuahi. Kalau yang selama ini die Frau amati rata-rata persepsi orang bahwa kodrat wanita adalah mengurus rumah tangga, memasak, mencuci, mengurus anak, sedang kodrat pria adalah mencari nafkah adalah salah besar. Kalau yang telah die Frau sebutkan tadi bukanlah kodrat tapi biasanya disebut dengan "gender role" atau "peran gender". Kok disebut "peran"? Ya iya lah.. memasak, mencuci, mengurus anakdan rumah tangga juga bisa dilakukan oleh pria, ndak harus wanita kan?!! sedangkan mencari nafkah juga bisa dilakukan oleh wanita. Bahkan di jaman sekarang ini hampir semua wanita ikut mencari nafkah lho..!!

Coba deh renungkan kembali, alangkah indahnya jika dalam suatu rumah tangga suami dan istri saling membantu. Jangan salah lho Istri itu paling bahagia kalau tiba-tiba si Suami memasak untuknya. Ndak usah muluk-muluk kalung berlian atau cincin, cukup bantu meringankan pekerjaan kesehariannya saja pasti si Istri sudah sangat senang. Coba dech..!!

So Mars and Venus, coba pahami perbedaan "kodrat" dengan "peran" yaaa.....
Be happy with your couple..!!

Jumat, 26 November 2010

Salahkah Aku?

Aku ingin terlepas dari perasaan ini, aku merasa tertekan hidup dengannya, terus terang aku benar-benar mencintainya, sulit untukku melepaskannya, tapi hati ini begitu sakit, tolong die Frau, salahkah aku bila aku berpindah kelain hati?

This life is so complex
, mengaku cinta tapi tertekan, mengaku sayang tapi menyakiti, apa sih hakikat cinta itu? Cinta itu merupakan bagian dari fitrah kita sebagai makhluk hidup dan sebagai manusia yang telah dibekali dengan akal dan pikiran.

O iya, menurut Socrates seorang filsuf yang terkenal, hakikat cinta itu adalah "manakala engkau belum puas dan menemukannya, maka kau akan terus mencari dan mencari, melihat sesuatu dan membandingkannya dengan yang lain, sehingga kehampaan yang kau dapatkan". Oke, mari kita bandingan hakikat cinta dengan hakikat perkawinan menurut Socrates "di mana engkau berani memutuskan memilih yang baik menurut pandanganmu dan walaupun engkau tahu bahwa itu bukanlah yang terbaik, di sinilah engkau menentukan sikap dalam memilih, di mana perkawinan adalah pengambilan keputusan yang berani, penyatuan dua hati, penyatuan dua karakter yang berbeda di mana dua insan ini harus dan berani berbagi serta menyatukan dua pandangan menjadi satu dalam menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya."

Bagaimana? Apabila seseorang telah berkomitmen untuk hubungan yang lebih jauh maka seharusnya dia juga berani mengambil resikonya, perbedaan pendapat, penyatuan karakter, dan penyatuan hati bukanlah hal yang mudah mengingat tiap manusia punya ego, ego yang telah ada sejak mereka terlahir ke dunia ini.

Saling memberi, saling menerima, dan saling mengerti sangat dibutuhkan untuk melanggengkan suatu hubungan. Saling berbicaralah dari hati kehati, tanpa emosi. Ambil moment yang tepat, ungkapkan rasa sakit itu, ungkapkan apa kemauanmu, sekali lagi, jangan ada yang tersembunyi, jika memang kalian saling cinta, jika memang kalian telah mengerti hakikat perkawinan pasti segalanya akan menjadi mudah walau die Frau sadar hal itu bukanlah hal yang mudah.

Berpindah kelain hati? pikirkan sekali lagi, belum tentu hati berikutnya lebih baik dari hati sebelumnya. Nobodys perfect honey .. Selama kalian masih mampu untuk menyelesaikan masalah yang ada, please buang jauh-jauh perasaan itu...

Be wise Mars... and be wise Venus...

Jumat, 02 Juli 2010

Dia Masa Laluku!!

Hari ini mendung sekali, semendung hatiku die Frau. Tak kuasa aku, seorang Venus yang lemah untuk membendung air mataku lagi. Ada apa lagi sweety? coba ceritakan pada die Frau.. let me be your shoulder to cry on. Oh die Frau, beberapa hari belakangan ini Mars ku seakan tidak percaya lagi kepadaku, ia sering ungkit masa laluku dengan Lelakiku yang dulu. Sakit hatiku die Frau, sedikitpun aku tak pernah berhubungan dengannya, sedetikpun aku tak pernah melupakan Marsku, mengapa dia dengan kejamnya menuduhku yang tidak-tidak. Aku telah melupakan masa laluku, tak pernah lagi mengingatnya, apalagi kembali mencintainya. Lagi pula dia, Lelakiku yang dulu telah memiliki Venus penggantiku, dan sedikitpun aku tak ingin merusak hubungan mereka.

Curiga.. rasa tak percaya.. ketakutan akan kehilangan.. kecemburuan yang tak beralasan dari seorang Mars. Sering kali kita pasti mengalaminya. Adakalanya menurut pandangan die Frau, Mars memiliki ketakuatan yang besar jika harus kehilangan Venusnya. Kecemburuan, curiga dan rasa tak percaya selalu menghantui diri Mars, apalagi jika ia menyadari Venusnya adalah seorang yang cantik dimana pasti banyak makhluk Mars lainnya yang dapat jatuh hati kepadanya. Tidak hanya itu saja, kesuksesan yang masih belum maksimal adakalanya bisa membuat diri seorang Mars menjadi minder, apalagi jika ia mengetahui lelaki Venusnya yang dahulu lebih sukses dari pada dirinya.

Tragis memang, dimana seorang Venus telah berjanji untuk selalu mencintai Marsnya sampai kapanpun dan mau menerima Mars apa adanya tapi dilain pihak Mars masih juga meragukan cinta Venusnya. Hellooooo..... Mars, are you there?? dont u know that all her teardrops just for you?

Dengan apa sebenarnya Venus harus membuktikan cintanya sehingga kamu dapat percaya Mars? Haruskah Venus bersimpuh, menciumi telapak kakimu Mars. Haruskah Venus mau menjadi budakmu, alas kakimu dengan menuruti segala keinginanmu Mars? Haruskah??!!

Percayalah Mars, buang segala prasangkamu dan ketakutanmu, seandainya kamu meminta Venus menjadi budakmu, alas kakimu, atau bahkan mengakhiri dirinya demi kamu, die Frau yakin Venus akan melakukannya apabila memang dia benar-benar mencintaimu. Biarlah lelaki itu menjadi masa lalunya, jangan pernah kau ungkit lagi, cintailah Venusmu apa adanya, maka dia akan menjadikanmu raja dihatinya. Dan ingatlah selalu Mars, bahwa kamu adalah sekarang dan masa depan bagi Venus.

Selasa, 29 Juni 2010

Prasangka

I hate this!! die Frau... please help me.!! Aku terlalu mencintainya, tapi... ada yang lain dihatinya. Ada apa Mars? ceritakanlah perlahan..
Entahlah die Frau, aku merasa akhir-akhir ini sikapnya berubah, seperti ada yang lain, seperti seseorang yang tidak pernah aku kenal. Apakah ada Mars yang lain dihatinya? Sepertinya dia kembali mencintai Marsnya yang dulu.

Weiitss... Jangan berburuk sangka dulu Mars, jika belum ada bukti kongritnya. Jangan terlalu cepat ambil keputusan. Apakah kamu punya bukti? Mars hanya membisu, peluhnya bercucuran..
"Baiklah die Frau, aku tak punya bukti tapi aku punya perasaan, aku punya feeling..."

Oke.. prasangka, feeling, curiga atau semacamnya itu yang membuat hubungan semakin memburuk, harusnya pasangan yang telah berkomitmen itu punya rasa saling percaya. Boleh sih curiga hanya sebagai "defense" saja, dengan catatan harus ada bukti kongritnya. Klo cuma dilihat dari sikap saja yang semula hangat lalu menjadi dingin itu sih belum bisa jadi patokan. Mood seseorang itu juga sangat mempengaruhi sikap dan prilaku lho...

Please become more wise Mars... Venus... Nobody's Perfect in this world.
Tiap manusia pasti adakalanya punya rasa malas atau kurang mood, dan itu bisa jadi penyebab tingkah laku ke pasangan menjadi dingin. Coba renungkan ... tak ada guna berprasangka, dari pada berprasangka lebih baik berusahalah membangun kemesraan yang semakin sirna.

Oke die Frau, tapi bagaimana caranya?
Its so easy.. ajak pasangan pergi nonton, berlibur, dinner atau kemana saja ke tempat yang kalian anggap romantis. Hidupkan kembali memori romantika yang hampir habis terkikis.

Fight for love guys.. coz its not really easy..

Selasa, 15 Juni 2010

Dia Selingkuh!!

Yang die Frau tak habis pikir sebenarnya apa arti tetesan air mata Venus buat Mars?? Seberapa berartinya tetesan air mata Venus itu buat Mars??

Lagi-lagi seorang Venus menangis karena Mars. What's going on sweety??? Aku rasa dihatinya cuma ada aku, aku kira di otaknya cuma ada aku, tapi aku salah die Frau. Aku melihat dengan mataku sendiri Mars memeluk Venus yang lain. Tolong aku die Frau, aku seperti kehilangan arah, apakah aku masih punya arti dihatinya?

Hmmm... Selingkuh....!! Sebenarnya apa sih selingkuh itu?? Terus, batasan selingkuh itu seperti apa?? bisa jadi yang dipeluk tadi sodaranya atau mungkin sahabatnya. Bagaimana dengan pelakunya? apakah selalu makhluk Mars? setau die Frau, makhluk Venus pun juga ada yang melakukannya.

Oh sweety, cinta itu masalah yang rumit dan kompleks. Kadang merasa cocok, kadang tidak cocok, kadang sayang, kadang benci, kadang rindu, kadang bosan. Setulus-tulusnya cinta kadangkala juga mengalami masa-masa kebosanan. Dan kembali lagi kepada Mars dan Venus itu sendiri bagaimana cara mengantisipasinya. Menurut die Frau, kebosanan itu bisa dihindari kok.
Kalau kita kreatif perselingkuhan itu bisa dihindari. Coba kalian Mars dan Venus, kembali berintrospeksi pada diri kalian masing-masing. Coba pahami kekurangan diri kalian masing - masing. Contohnya, "kok aku ngrasa kurang perhatian sama Mars ya?" atau "Sepertinya aku terlalu keras ke Venus!" dan masih banyak contoh introspeksi lainnya lagi. Dan, jangan sekali - kali introspeksi tapi dengan menyalahkan pihak lain. Contoh "sepertinya aku kurang perhatian sama Mars, habis Mars rese' egois banget, jadi suntuk dech!!" Kalo introspeksinya macem gitu mana ada penyelesaiannya?

Kalau sudah introspeksi coba saling dibicarakan tapi dengan kepala dingin yaa... jangan pake emosi. Terus acara damai-damaian duonk.. have dinner di romantic cafe atau pergi nonton.
So many things that you can do untuk menjaga pasanganmu. Be creative honey!!

Saling memahami dan menghormati privasi pasangan itu penting lho. Selama saling percaya buat die Frau tidak jadi masalah. Tapi, menurut die Frau, kalau sudah dalam lingkup pernikahan ada baiknya antara Venus dan Mars tidak ada rahasia lagi, karena pada dasarnya mereka telah menyatu. Sebaliknya, jika masih tahap pacaran sih punya privasi ya sah-sah aja. Masih Wajar kok. Jadi... yuk kita saling introspeksi ^^

Minggu, 13 Juni 2010

Indahnya dunia serasa milik berdua

"My first date is succeed!! Yippiee...!!" Teriak Venus dan Mars ditempat yang terpisah. Oh.. apakah sesimpel itu? Of course not!! Ini baru hanya awal permulaan dari suatu hubungan. Indah, bahagia, semua serasa milik berdua. Dimana-mana.. di restoran, di mall, di kampus, dimanapun Mars selalu memeluk atau menggandeng Venus. Mereka tidak peduli ada banyak pasang mata melihat ke arah mereka. They really don't care!! This world is belong us!! die Frau rasa itu yang ada dibenak mereka.

Melupakan sedikit adat dan kebiasaan orang Timur yang pada kenyataannya saat ini perhalan sedikit-demi sedikit tapi pasti mulai terkikis oleh budaya Barat yang menurut kita kurang beradab. Berpelukan dan berciuman di tempat umum serasa sudah dianggap hal yang wajar.

Helloo... para Mars dan Venus, sadarkah kalian jika hubungan kalian ini tidak hanya disini saja, tidak hanya sebatas berpegangan tangan, berpelukan, berciuman atau bahkan bisa lebih dari itu. Sadarkah kalian jika dalam suatu hubungan itu terdapat sebuah tanggung jawab, kasih sayang, dan bukan hanya nafsu semata. Jika kalian belum siap untuk bertanggung jawab, memberikan kasih sayang yang tulus, serta dapat menyeimbangkan antara nafsu dan akal sehat, maka jangan sekali-kali berkomitmen.

Cinta tidaklah semudah dan sesimpel yang kalian kira, kadang bisa membuat kita bahagia, atau bahkan sebaliknya dapat membuat kita sakit hati seperti bumerang yang siap menyerang si pemiliknya. Tapi apakah kalian sadari itu wahai para makhluk Mars dan Venus??

So, jalan masih panjang, jalinlah sebuah hubungan yang harmonis, bertanggung jawab dan tentunya didasari oleh akal sehat.